Memahami Lingkup Konspirasi Yang Sangat Luas Cakupannya

29 05 2012

“Orang akan menghadapi kendala ketika dihadapkan kepada sebuah konspirasi yang begitu dahsyat, dan dia tidak akan mempercayainya bahwa itu ada” J. Edgar Hoover

Dunia kita dewasa ini berada dalam genggaman manusia-manusia pemuja Setan.”

Orang kecut akan bisikannya, akan tetapi bukti terhampar menatap kita setiap harinya.

George W. Bush, Sang Presiden dari “Dunia Bebas” adalah seorang anggota “Skull and Bones” yang merupakan salah satu bagian dari ordo Illuminati. Kakek, ayah serta pamannya adalah anggota juga.

Di dalam autobiografinya yang berjudul, “A Charge to Keep” Bush menulis, “Dalam tahun senior, Saya bergabung dengan Skull and Bones, sebuah perkumpulan rahasia yang bersifat sangat rahasia, sehingga Saya tidak dapat mengatakannya lebih dari ini. “Dalam bulan Agustus 2000 dia mengatakan bahwa “Warisan adalah merupakan bagian dari siapa Saya ini.

Bukankah ini merupakan sebuah konflik kepentingan?

Bisakah seorang pria yang memangku jabatan publik, membiarkan kepentingan utamanya, apalagi sebagai anggota sebuah “perkumpulan rahasia”? Jika perkumpulan tersebut baik, mengapa harus dirahasikana pula?

Binatang apakah perkumpulan rahasia Illuminati yang dimaksudnya itu! Illuminati adalah hidden hand yang berada di belakang semua kejadian yang menggemparkan dalam dunia modern kita, termasuk diantaranya Revolusi Perancis, Komunisme Rusia, Depresi dan Naziisme. Mereka mempengaruhi perjalanan sejarah dunia untuk mengambil keuntungan berupa uang. Banyak orang yang berada di belakang Illuminati.

Dewasa ini kita sedang menghadapi kenyataan. Murphy Law diberlakukan terhadap umat manusia. “Jika pelaksanaannya menyimpang, dan akan menyimpang.”

Dan saat ini sudah terjadi. Dunia kita dewasa ini diperintah oleh sekelompok orang pemuja Setan.

ILLUMINATI DAN THE SKULL & BONES

Illuminati berasal dari Yahudi Kabala, Pemuja rahasia Babilonia, Kesatria Templar, Freemason dan berbagai macam kepentingan yang didedikasikan kepada penyembahan kepada Setan dan untuk kekuasaan yang absolut. Pada tanggal 1 Mei 1776, Adam Weishaupt, seorang profesor di Universitas Inglostadt di Jerman, mendidirikan “Ordo Illuminati.” Banyak orang percaya bahwa Weishaupt disponsori oleh Pangeran William dari Hesse Casel dan seorang bankirnya Meyer Amschel Rothschild, orang paling kaya di dunia.

Tujuan Illuminati adalah menghancurkan Peradaban Barat dan mendirikan sebuah Tata Dunia Baru yang diperintah oleh mereka. Metodanya adalah dengan memecah semua keterikatan sosial (pemberi kerja, negara, agama, ras, keluarga) dengan cara memanfaatkan keresahan di dalam masyarakat dan menjanjikan sebuah zaman emas dalam “persaudaraan umat manusia”. Yang sekarang ini disebut dengan “globalisasi”

Tertarik terhadap janji akan kekuasaan dan perubahan, orang mengabdikan diri tanpa menyadari Apa atau Siapa yang mereka dukung. Weishaupt menghimbau para pengikutnya untuk “mempraktekkan seni tipu-daya .” Kepada anggota baru dikatakan bahwa Illuminati mengekspresikan spirit asli Kekristenan. Weishaupt kagum, bahkan orang-orang gereja pun bisa tertipu. “Bagaimana dengan Anda, apakah Anda tidak bisa terbujuk?” (Nesta Webster, World Revolution, 1921, p. 27

Dalam kurun waktu selama 200 tahunan ini Illuminati selalu campur tangan dalam setiap gerakan yang disebut “progresif” Para wanita, kata Weishaupt, harus masuk daftar ” hints of emancipation – isyarat emansipasi.” Mereka “semua bisa dipimpin ke arah perubahan dengan ditimbulkan sifat sombongnya, rasa ingin tahu, sensualitas dan hawa nafsu.” (Webster, 29)

Adalah William Huntington, orang Amerika yang studi di Jerman pada waktu itu yang mendirikan “the Skull and Bones” (Bagian 322 dari Bavarian Illuminati) di Universitas Yale pada tahun 1832. Anggota mengenakan pakaian bergambar tengkorak dan disumpah mati dalam rangka menjaga kerahasiaannya. “Ordo” menjadi pelindung keluarga-keluarga New England, mereka mengumpulkan kekayaannya dari perdagangan Opium. Termasuk dalam keluarga ini adalah Whitney, Taft, Buckley, Lowell, Sloan, Coffin, dan Harriman. Keluarga Bush bergantung pada kepentingan-kepentingan mereka .

Selama lebih dari 150 tahunan, para anggota “Skull and Bones” telah mengatur dunia melalui orang-orangnya dalam perbankan, intellijen, media, hukum dan pemerintahan. Anggota-anggotanya yang berperan a.l. termasuk protokol kepresidenan Averell Harriman, pemimpin gerakan anti- perang William Sloan Coffin, Tokoh terkemuka Time-Life Henry Luce, Menteri Pertahanan Presiden Truman Henry Stimson (yang bertanggungjawab atas digunakannya bom atom), pseudo conservative William F. Buckley dan banyak lagi.

“PERTEMPURAN BUKAN ANTARA KIRI DAN KANAN”

Pada tahun 1960-an seorang bea siswa warga negara Amerika kelahiran Inggris, Dr. Anthony Sutton yang sedang belajar pada Institut Hoover Stanford, menemukan bahwa meskipun dalam keadaan Perang Dingin, Amerika Serikat memberikan kebutuhan teknologi senjata kepada Rusia, termasuk teknologi persenjataan yang digunakan untuk melawan prajurit Amerika dalam Perang Vietnam. Sutton meneliti lebih dalam lagi dan menemukan, ternyata Wall Street lah yang mensponsori, baik Revolusi Bolshevik maupun kebangkitan Nazi Jerman. Dua buah buku mengenai hal tersebut di atas yang dapat diakses secara on line , merupakan karya yang berharga dari karir akademi Dr. Sutton.

Pada tahun 1983, Dr. Sutton menerima daftar anggota Skull and Bones dan segera mengenal nama-nama orang yang mengendalikan kebijakan Amerika. Kemudian ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul “America’s Secret Establishment: An Introduction to the Order of Skull and Bones” (1986). Pada bulan Juni 1977, sebelum meninggal dunia dalam usia 77 tahun, ia membaharui dan menerbitkan kembali buku tersebut. Berikut ini sebagian dari kesimpulannya .

“Ordo” the “Skull and Bones” asalnya dari Jerman namun murni perwujudan Amerika. Dr. Sutton membandingkannya dengan the Round Table, perkumpulan rahasianya Cecil Rhodes’ di Universitas Oxford yang juga dikenal sebagai “The Group.” Masing-masing entitas orang Amerika dan Inggris terdiri dari 20-30 keluarga dinasti. Perbankan Yahudi menghubungkan kepentingan mereka. .

“Hubungan antara ‘Ordo’ dengan Inggris melalui orang yang bernama Lazard Freres serta bank dagang privat… ‘The Group’ sama terhubungkan kepada Yahudi melalui Rothschilds di Inggris… ‘The Order’ di Amerika Serikat terhubungkan dengan keluarga-keluarga Guggenheim, Schiff dan Warburg.” (23)

Sebagaimana dicatat oleh Dr. Sutton, “The Order” kecenderungannya nyata anti-Semitic, namun pada tahun 1960-an, dalam acara pelantikan selama kurun waktu 15 tahunan banyak nama-nama Yahudi yang nampak di antara orang yang dilantik. Lihat daftar anggota Skull and Bones.

Dr. Sutton yakin bahwa pemisahan antara “kiri” versus “kanan” adalah merupakan permainan curang yang digunakan sebaga alat untuk mengendalikan perdebatan dan mengkondisikan warganegara untuk berpikir sepanjang garis tertentu. Majalah sayap kiri seperti “The Nation” dan “The New Republic” dan majalah fraksi kanan seperti “The National Review” disiapkan secara artifisial. Yang pertama dibiayai dari uang Keluarga Whitney sedangkan yang kedua oleh Keluarga Buckley. Keduanya anggota “The Order”.

Dr. Sutton menyatakan: “Cepat atau lambat orang akan bangkit. Pertama kita harus membuang perangkap rekayasa kiri dan kanan. Hal ini merupakan perangkap Hegelian untuk memecah belah dan pengendalian. “Pertempuran bukan antara kanan dan kiri, pertempuran yang sebenarnya adalah antara kita dengan mereka.”

Terjadi juga hal serupa dalam kancah politik internasional, strukturnya dibangun secara artifisial kiri dan kanan, kemudian dirobohkan dalam rangka mendorong terbentuknya sebuah dunia sintesa, yaitu sosialisme otoriter yang dikendalikan oleh monopoli modal.

Buku-buku teks Perguruan Tinggi menjelaskan kepada kita bahwa perang dan revolusi adalah sebagai akibat dari terjadinya konflik antar kekuatan yang bersengketa. Hal ini adalah omong kosong, kata Dr. Sutton. Mereka menciptakannya dan dibiayai oleh Wall Street dalam rangka menciptakan sebuah Tata Dunia Baru. Anda tidak akan membaca hal ini di dalam buku-buku sejarah.

“Sejarah kita di Barat sama sekali disimpangkan, disensor dan sebagian besarnya sia-sia, sebagai mana mengenai Hitler Jerman atau Uni Sovyet atau pun Komunis Cina…” (122)

Dr. Sutton percaya bahwa The Order mempunyai banyak kelemahan karena sebagai hasil dari sebuah percampuran penyatuan sifat yang mendasarkan atas kekuasaan picik serta keterbatasan akan Weltanschauung . Ia juga menegaskan bahwa k onflik di masa mendatang yang akan terjadi antara otoritas penguasa negara dengan individu akan “berbentuk jutaan” oposisi. “

“Tak seorangpun akan menciptakan gerakan anti-Ordo. Karena hal itu nekad dan tidak perlu. Juga bisa diinfiltrasi, disogok, atau semuanya dialihkan dengan mudahnya. Mengapa dipermainkan oleh para penguasa yang diatur oleh musuh? Nanti akan ada pergerakan yang akan merobohkan The Order yang benar-benar sederhana dan paling efektif. Akan ada puluhan ribu atau sejuta orang Amerika yang sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak menghendaki Negara sebagai tuan besarnya, mereka lebih memilih hidup di bawah perlindungan Konstitusi. Mereka akan membuat keputusan membebaskan dirinya sendiri untuk menggagalkan The Order dan akan berbentuk puluhan ribu atau sejuta pembebasan.” (55)

Nanti akan ada pergerakan yang akan merobohkan The Order yang benar-benar sederhana dan paling efektif. Akan ada puluhan ribu atau sejuta orang Amerika yang sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak menghendaki Negara sebagai tuan besarnya, mereka lebih memilih hidup di bawah perlindungan Konstitusi. Mereka akan membuat keputusan membebaskan dirinya sendiri untuk menggagalkan The Order dan akan berbentuk puluhan ribu atau sejuta pembebasan.” (55)

DISONANSI KOGNITIF

Aneh memang kedengarannya, bahwa dunia kita adalah merupakan produk dari sebuah komplotan multi generasi para pengikut Setan.

Ketika kita membandingkan konklusi yang mengganggu ini dengan penggambaran yang menyenangkan yang disuguhkan oleh media massa serta bidang pendidikan yang kendalikan oleh Illuminati, kita mengalami “disonansi kognitif – ketidaksesuaian pemikiran” atau tekanan psikologis. Hal ini biasanya dipecahkan dengan cara menghindari kenyataan yang, kemudian menyangkal hal tersebut dengan mengatakannya sebagai ” “teori konspirasi.”

Seoramg pembaca yang terjaga dari tidurnya menulis:” Anda adalah SUNGGUH seorang tukang cerita paling besar yang pernah saya dengarkan. Jika saya benar-benar mengalami kebosanan Saya akan membaca beberapa dari ceritera orisinil yang Anda buat.”

Sesungguhnya konspirasi adalah sangat masuk akal. Orang yang mengendalikan bagian terbesar dari kekayaan dunia yang tidak sebanding dengan andilnya, tentu akan mengambil langkah-langkah pengamanan untuk mengkonsolidasikan posisinya. Mereka akan membuat tidak stabil publik dengan cara menimbulkan sebuah rangkaian peperangan serta memperdayakan umat manusia dengan cara memasukkan meragukan kedalam pikirannya – mind-boggling – seperti melalui ide-ide Komunisme, Lesbian, Feminisme, Multikulturisme dll. Mereka akan meruntuhkan “keyakinan” manusia kepada Tuhan yang diimaninya serta mempromosikan kekerasan dan perbuatan jahat (Setan) sebagai gantinya.

Pemerintahlah yang mengilhami terjadinya kekejaman peristiwa 9/11 membuktikan bahwa sebuah kelompok pemuja Setan mengontrol Amerika Serikat. Bush dan kaki tangannya adalah penjahat, pengkhianat dan impostor atau penipu ulung. Tetapi jangan juga menilai Partai Demokrat itu sebagai penyelamat. Senator John Kerry pesaing utama Bush adalah juga anggota Skull and Bones. (Kelas 1966.)

“Perang melawan Terror” adalah sungguh dirancang untuk mencegah oposisi domestik dan mengkondisikan rakyat menuju kearah Tata Dunia Baru. Apa yang bisa kita lakukan?

Antony Sutton tepat ketika ia mengatakan bahwa oposisi karakternya haruslah secara individu. Dengan demikian hal itu akan menciptakan puluhan ribu atau sejuta bentuk oposisi.” ***

 

Sumber : eradajjal.blogspot.com





Merubah atau Mati

22 08 2011

“Dia-lah yang telah mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk  (Al-Qur’an) dan Dien yang haq (Islam) untuk dimenangkan di atas dien-dien yang lain , walaupun orang-orang Musyrik membencinya” ( At-Taubah : 33)

Islam adalah Dienullah,  sistem hidup dan kehidupan yang bersifat Syumuliyah (lengkap, sempurna). Tidak ada satu asfek kehidupan-pun yang luput dari Kepengaturan islam. Bidang Ubudiyah, Muamalah, Munakahah dan Jinayah atau IPOLEKSOSBUDHANKAM landasan Syari’at-Nya sudah termaktub dalam Dusturul Muslimin (UUD kaum muslimin) yakni al-Qur’an dan as-Sunah.

Allah mengutus Rasulululah Muhammad Saw adalah untuk menyempurnakan Dinullah, sehingga menjadi pedoman utama umat manusia hingga akhir jaman,

“Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu Dien mu…..”(Qs al-Maidah [5] :3).

Pasca turunnya ayat terakhir ini, maka tugas Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul Allah telah berakhir. Tidak ada DIEN lagi, Syari’at lagi, UUD lagi yang berhak dan syah untuk mengatur kehidupan manusia selain Dienul Islam,

“Sesungguhnya Dien yang diridloi disisi Allah adalah al-Islam….(Qs ali Imran : 19.

“Dan barangsiapa yang mencari Din selain al-Islam, maka ia tidak akan diterima. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Qs ali Imran : 85).

 

Kaum lantardlo

Namun kesempurnaan al-Islam, diutusnya Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir dan penyempurna Dien  yang juga dibawa para Nabi dan Rasul sebelumnya (Qs 42 :13) dan dimuliakannya kaum muslimin sebagai umat terbaik di akhir jaman tidak disukai oleh manusia-manusia thogut, manusia takabur atau lebih tepatnya musuh-musuh Allah,

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridlo kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka….”(Qs al-Baqarah [2] : 120).

Dengan penuh kesungguhan, terprogram dan sistematis, kaum lantardlo ini menyusun makar (Qs 8 : 30) untuk memadamkan cahaya Allah, mengaburkan makna al-Islam sebagai Dienullah, mendistorsi sejarah. Hingga mengembalikan dunia ini kepada peradaban Jahiliyah setelah diterangi oleh peradaban agung (Al-Islam) selama berabad-abad.

Peradaban Jahiliyah yang mereka bangun sengaja dikemas sedemikian rupa agar nampak sebagai sebuah kemajuan, kemodernan  dan kejayaan dunia. Dengan segala kesanggupan ilmiah dan materialnya, kejahiliyahan modern memang mewujudkan beberapa kenyataan yang bermanfaat bagi manusia, yang secara kualitas maupun kuantitas belum pernah terwujud pada zaman-zaman sebelumnya. Itulah yang mengaburkan pandangan mata manusia, lebih hebat daripada yang pernah terjadi di masa lampau, sehingga manusia menganggap hidupnya berada diatas petunjuk yang benar.

Upaya ini semakin nampak terutama setelah runtuhnya satu-satunya simbol Institusi Islam Dunia tahun 1924, yaitu Kekhilafahan Utsmani di Turki. Kaum lantardlo ini mengirim utusan untuk mengekspansi Negara-negara muslim yang sebelumnya berada dibawah naungan Khilafah dengan misi 3 G : Gold, Gospel, terutama God dan kemudian menjajahnya. Negara-negara dari daratan Eropa dan Amrik berbagi wilayah koloni, diantaranya wilayah kita Nusantara ini dikuasai oleh Portugis, kemudian Belanda selama 350 tahun. Adalah Snouck Hugronye  merupakan tokoh yang berperan besar memudarkan kemurnian al-Islam dan mengaburkan makna Dienulloh ini sehingga terjadi Iltibas/kolaborasi dengan Din Ghoer Islam/al-Batil.

Pada masanya umat Islam dibuat berpecah belah/Devide et impera, hingga melahirkan dua kubu besar umat yang senantiasa bertentangan, yakni kubu Tradisionalis dan Kubu Modernis. Kemudian kaum lan tardlo lebih berfihak kepada kubu Tradisionalis/abangan, hingga pecah Perang Padri antara pasukan pimpinan Tuanku Haji dari Kaum Adat/Tradisionalis yang dibantu Belanda dengan pasukan pimpinan Imam Bonjol dari Kaum Padri/Modernis di Sumatera Barat. Pada perkembangan selanjutnya mereka juga membuat “fatwa” larangan menterjemahkan al-Qur’an, mengharuskan Khutbah Jum’at dengan Bahasa Arab dan melarang dengan memakai Bahasa Daerah atau Nasional, memisahkan Islam dengan urusan Sosial Politik Kemasyarakatan hingga pemahaman umat digiring  untuk memaknai Islam sebagai agama ritual belaka secara turun temurun (Qs al-Maidah [5] : 104).

Warisan Kaum lantardlo

Kendati kaum penjajah ini telah kembali ke negerinya, namun mereka telah berhasil mewariskan ideologinya kepada anak bangsa negeri ini. Sesuai dengan kehendak mereka, mereka tidak akan ridho kepada umat Muhammad sampai umat ini mengikuti millah mereka(Qs 2:120). Dan Ironisnya para perusak Islam yang menggiring umat ini untuk mengikuti millah mereka bukan lagi mereka sendiri, tapi para agennya, anak bangsa ini yang notabene juga beragama Islam. Kalau di Turki ada Kemal Pasya, di Indonesia ada Soekarno, Tan Malaka dan Muso. Sabda Nabi Saw, : Al-Islamu mahjuubun bi muslimin (Islam terhalang oleh ulah umat islam sendiri).

 

Warisan kaum lantardlo yang hingga kini masih dipakai oleh umat Islam, yang umat sendiri tidak menyadari bahwa ideologi atau sistem yang diwariskan oleh kaum lantardlo ini adalah Kebatilan. Bahkan dengan lantang umat termasuk tokohnya sendiri mengatakan bahwa tindakan mereka sebagai bentuk Ijtihad. Diantara Sistem ideologi tersebut adalah Sekulerisme, Demokrasi, Nasionalisme, Fluralisme dan HAM.

 

Sekulerisme

Faham ini adalah faham yang memisahkan antara kehidupan agama dengan kehidupan Sosial politik Kemasyarakatan. Mereka menerima hukum-hukum Allah, namun hanya sebagian saja, itupun yang bersifat Ubudiyah/ritual. Sementara urusan kehidupan lainnya mereka menolaknya. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir)” (Qs an-Nisa [4] : 150).

 

Demokrasi

Faham Demokrasi adalah faham yang menjadikan suara mayoritas manusia atau rakyat suatu Negara sebagai sumber keputusan akhir, Standar kebenaran. Kendati keputusan yang dihasilkan dari pendapat kebanyakan orang tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Ilahiyah. “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah., Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadapAllah) (Qs Al-An’am [6] : 116). Dalam membuat keputusan, ketika terjadi Dead lock  dalam sebuah “Musyawarah” maka akan terjadi Bargaining position, Koalisi antar Ideologi dan pemenangnya adalah yang memiliki suara terbanyak. Hal ini bertentangan dengan firman Allah, “Jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya…”(Qs an-Nisa [4] : 59).

Semestinya seorang muslim tidak duduk bersama “pemerintahan Kafir” di suatu majlis (parlemen), atau masuk ke dalam sistim mereka (QS Ali Imran [3]:118,149, Al-Nisa [4]:140, Al-Baqarah [2]:42,159,174,) dengan alasan apapun (QS Ali Imran [3]:118-119, 149-150) termasuk bermusyawarah (QS Al-An’am [6]:116).  Ingat, firman Allah (QS  Al-Baqarah [2]:120, 109).

 

 

Nasionalisme

Faham ini adalah faham yang mendasarkan ikatan ideologi, ikatan isme dan segala ikatan yang ada dibingkai dalam ikatan Nasiolisme, atau ikatan kebangsaan. Sehingga ikatan apapun tidak boleh keluar dari ikatan kebangsaan, termasuk ikatan Aqidah Islamiyah. Seorang muslim tidak berhak membantu muslim lainnya di luar wilayah Nasionalismenya sepanjang tidak ada ijin dari kepemimpinan Nasional-nya. Inilah suatu bentuk sikap ashobiyah yang dikecam oleh Nabi Saw, “Bukan termasuk umatku orang yang berjuang atas dasar ashobiyah”. Padahal al-Islam adalah bersifat rahmatan lil alamin, mendasarkan ikatan mutlak dan ikatan yang Haq adalah ikatan Aqidah Imaniyah dan Islamiyah dibelahan bumi manapun keberadaan seorang muslim. Maka fase pergerakan Islam adalah menuju kepemimpinan Internasional : Jama’ah, Madinah, Daulah hingga khilafah fil-ardli (Qs 24 : 55).

 

Pluralisme

Faham ini adalah faham yang hendak membaurkan/Iltibas antar Haq dan Batil dengan dalih kemajemukan. Isu SARA (Suku, Agama, Ras) sengaja diangkat ke permukaan untuk menghadang perjuangan para Mujahid Islam. Hingga keyakinan untuk menegakkan yang Haq dan menghancurkan yang Batil dianggap suatu tindakan terorisme. Perdamaian, Toleransi dan Kemajemukan yang mereka gemakan adalah misi sefihak. Ketika Umat Islam hendak membela dan memperjuangkan keyakinannya mereka bersuara lantang untuk menghadangnya. Sementara ketika Misi Kristenisasi semakin merajalela mereka diam seribu bahasa. Bahkan ada diantara tokoh yang mengaku tokoh Islam menjadikan Perjanjian Hudaibiyah sebagai penisbatan pluralisme.

Islam mengakui keberagaman, namun bukan berarti keaneka ragaman keyakinan harus dipadukan/dicampuradukkan (Qs al-Kafirun [109) : 6), tapi berdampingan untuk saling menghormati dibawah kendali orang-orang beriman dan bertaqwa (pemerintahan Islam), “Hai manusia sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal, Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia diantaramu adalah orang-orang Bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi mengabarkan” (Qs al-Hujurat [49] : 13)

 

Hak Asasi manusia

Faham ini adalah faham yang hendak menjadikan segala bentuk perbuatan, tindakan dan sikap manusia dibenarkan dengan dalih manusia memiliki Hak Asasi, hak yang mendasar kendati bertentangan dengan nilai-nilai Rububiyah. Sehingga para pelaku maksiyat; mesum, pornoaksi berlindung dibawah payung HAM dengan dalih tindakannya sebagai Hak berekspresi seni. Apabila membentuk masyarakat, maka segala aturan yang dibuat senantiasa akan berorientasikan kepada kepentingan pribadi atau hak-hak individu (individualisme). Mereka banyak menuntut HAM daripada KAM (Kewajiban Asasi Manusia). Mereka lebih mementingkan kesenangan pribadi sendiri daripada kehidupan sosial. Allah berfirman, “Andaikata kebenaran itu  mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya akan binasalah  langit dan bumi ini beserta apa-apa yang ada padanya…” (Qs al-Mu’minun [23] : 71).

Padahal Al-HAQ hanyalah milik Allah semata, “Al-Haq itu dari Rabmu, maka janganlah kamu menjadi orang-orang yang ragu”(Qs al-Baqarah [2] : 147). Kewajiban manusia adalah beribadah kepada-Nya, yakni menegakkan HAK-NYA (yaitu tegak Hukum dan KekuasaanNya), “Hai manusia beribadahlah kepada Rabmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu. Agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa” (Qs al-Baqarah [2] : 21).

 

Merubah atau Mati

Jahiliyah modern yang telah dibangun oleh kaum lan tardlo dengan segala jenis thagutnya mengira akan dapat menghancurkan, bahkan mengira telah menghancurkan Dien Allah. Ia berhak mempunyai perkiraan demikian. Orang yang melihat peta bumi sepintas lalu tentu akan tertegun menyaksikan panji jahiliyah berkibar di setiap tempat pada permukaan bumi. Sebaliknya ia tidak melihat sebuah panji Islam pun yang berkibar. Akan tetapi Dien Allah sama sekali tidak tergantung kepada manusia, “….dan Allah tetap menyempurnakan Dien-Nya, kendati orang-orang kafir tidak menyukainya.”(Qs Ash-Shaf [61] : 8).

Kesengsaraan berat yang diderita umat manusia yang hidup dibawah kekuasaan Jahiliyah di muka bumi ini; kerusakan akibat kezaliman sistem thogut di bidang politik, ekonomi, sosial, moral dan segala bidang kehidupan lainnya merupakan beberapa faktor yang akan mendorong manusia untuk merubahnya kembali menjadi sistem Islam . Manusia akan merindukan sistem hidup dan kehidupan yang dilandasi nilai-nilai Ilahiyah.

 

Namun untuk mewujudkan kerinduan manusia terhadap sistem Islam tersebut, tidak akan terwujud oleh umat Islam yang hanya berpangku tangan, seraya memperbanyak dzikir, Sholawat, istighosah belaka di masjid-masjid. “….Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka….”(Qs ar-Rad [13] : 11).

Bila Allah menghendaki, Dia akan membangkitkan kembali Dien-Nya melalui umat lain yang sanggup melaksanakan tugas kewajiban dengan sebenar-benarnya. “Hai manusia, bila Allah menghendaki, Dia berkuasa melenyapkan kalian dan mendatangkan umat manusia (untuk menggantikan kalian). Allah MahaKuasa berbuat hal itu”(Qs An-Nisa [4] : 133).

Umat manusia yang akan sanggup memikul tugas mulia ini adalah orang-orang beriman dan senantiasa beramal saleh ; bergerak, berjuang, berkorban, siap menjual diri dan hartanya di jalan Allah, siap menukar kesenangan duniawinya dengan mengharap kebahagiaan ukhrowi.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka Din yang telah diridloi-Nya untuk mereka….”(Qs An-Nur [24] :55

Dan pilihannya adalah Merubah atau Mati karenanya !!!





Demokrasi, sebuah kemunduran Peradaban

22 08 2011

Sebelum Muhammad bin Abdullah diangkat oleh Allah Swt sebagai rasul-Nya, keadaan di Mekah dan di seluruh dunia pada umumnya sedang dalam masa mundurnya peradaban. Peradaban yang dimaksud adalah peradaban kemanusiaan, walau secara teknologi saat itu sudah banyak kemajuan. Begitupun dalam hal kesusasteraan orang Mekah pada khususnya sudah pandai. Bahkan lirik-lirik dalam syair mereka adalah berbicara tentang ketauhidan, tentang Ibrahim as dan millahnya. Mereka juga secara ritual sudah berhaji, berinfaq, bahkan sembahyang. Namun mengapa Islam menyebutnya masa JAHILIYAH, masa kemunduran peradaban.

Karena Syair-syair yang mereka lantunkan adalah hanya bentuk seni belaka, bukan lahir dari jiwa tauhid. Syair mereka gunakan untuk menarik simpati, dukungan dan popularitas. Dimana pada kenyataannya syair yang mereka lantunkan tidak diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Hukum positif yang berlaku adalah Hukum nenek moyang (Qs 5 : 104, 2:170).
Tali ikatan diantara mereka adalah ikatan Ashobiyah/Qobilah atau kesukuan (Quraiys).
Mereka sering membangga-banggakan kelompok dan sukunya. Dan mereka saling membela sesama suku mereka apabila ada yang mendzalimi, walaupun yang dibelanya di pihak yang salah.
Mereka saling merasa yang paling berhak dan layak memimpin dibanding kelompok atau suku yang lainnya (ingat, kisah pemindahan hajarul aswad setelah batu hitam tersebut terbawa arus banjir dari tempatnya/Ka’bah).
Masyarakatnya tidak segan saling membunuh karena persoalan sepele. Anak perempuan dibunuh, karena merasa aib dan tidak bisa berperang (contoh kisah Umar bin Khotob di masa jahiliyah)

Setelah sang al-Amin diangkat jadi Rasul-Nya dan mengembangkan misinya ke seluruh penjuru dunia, dunia kembali berada dalam puncak kemajuan peradaban. Perbudakan dihapuskan, perempuan dihargai, bahkan dimuliakan sejajar dengan kaum pria. Hukum Allah adalah hukum positifnya. Wilayah-wilayah di dunia yang bertahkim ke madinah mengalami kemajuan di berbagai bidang, baik segi dunia maupun akhiratnya. Toleransi dan perdamaian bukan hanya slogan belaka, tapi dipraktekkan.

Kini 1400 tahun lebih pasca kejayaan Islam dan dunia, umat Islam kembali kehilangan kepemimpinan dan kekhilafahan. Dunia kembali mengalami masa suram, masa kemunduran peradaban.

Ayat-ayat Allah hanya jadi kamuflase untuk meraih simpati, dukungan dan popularitas, sementara….

Hukum positif yang berlaku adalah hukum nenek moyang/kultur budaya bangsa
Tali ikatan diantara manusia adalah ikatan Ashobiyah/Kebangsaan/Nasionalisme
Mereka saling membangga-banggakan pribadi, golongan, partai dan bangsanya. Mereka saling membela sesama mereka, walupun yang dibelanya salah, pelaku KKN.
Mereka merasa paling layak dan berhak menjadi pemimpin , Presiden, anggota Dewan dibanding orang lain, kelompok lain, partai lain atau bangsa lainnya.
Masyarakatnya tidak segan saling membunuh karena persoalan sepele. Bayi laki-laki dan perempuan dibunuh, bahkan sebelum lahir ke dunia-pun (KB dan Aborsi) dengan alasan tidak bisa makan atau karena hasil hubungan perzinaan.

Semua itu mereka sebut sebagai kemajauan peradaban dengan slogan DEMOKRATISASI. Mereka mengkalim sedang membuat peradaban gemilang. Namun bagaimana kenyataan yang terjadi…..?

Justru Sistem Demokrasi lah yang telah melahirkan pribadi-pribadi pintar namun tak berakhlak mulia, seperti halnya gayus tambunan, sri mulyani serta yang terakhir ini Nazarudin yang justru menambah suram keadaan Negeri ini.

Allah berfirman, “Apabila mereka diseru untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawabnya sesungguhnya kami sedang membuat kemaslahatan. Ingatlah, sesungguhnya mereka sedang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya (Qs al-Baqoroh [2] :11-12)





Mendadak Ustadz | Pelawak atau Penda’wah

20 08 2011

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Allah berfirman, “Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang Kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR. Tirmidzi)
Namanya saja ulama su’ (buruk), tentu pekerjaan-nya merusak, mengacau, dan menyesatkan. Disebut ulama karena baju dan lisannya seperti ulama, disebut su’ karena perbuatan, ajakan, dan hatinya jahat. Karena itu, ulama su’ termasuk jenis manusia yang berbulu domba namun berhati serigala.Ulama su’ sekarang ini adalah generasi penerus dari ulama su’ zaman dahulu. Ulama su’ mengajarkan tipu daya untuk mencari celah-celah hukum Allah, sehingga mereka bisa memakan harta secara batil seperti kisah penduduk yang menghalalkan mencari ikan pada hari Sabtu dengan tipu daya yang cukup terkenal itu, atau menghalalkan bangkai dengan cara mencairkannya menjadi minyak lalu dijual dan dimakan harganya.

Ulama su’ adalah peringkat ulama yang paling rendah, paling buruk dan paling merugi. Ia adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengajarkannya kepada manusia. Di samping itu, ia mengajak kepada kejahatan dan kesesatan. Ia menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan. Ia menggambarkan kebatilan dengan gambar sebuah kebenaran. Ada kalanya, karena menjilat para penguasa dan orang-orang dzalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, penghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka. Atau ada juga yang melakukan itu karena sengaja menentang Allah dan Rasul-Nya demi menciptakan kerusakan di muka bumi ini. Mereka tidak lain adalah para khalifah syetan dan para wakil Dajjal.

Di antara ulama su’ ada juga kelompok yang mengajak kepada kebaikan, namun tidak pernah memberikan keteladanan. Karena itu, Ibnul Qayyim berkata: “Ulama su’ duduk di depan pintu surga dan mengajak manusia untuk masuk ke dalamnya dengan ucapan dan seruan-seruan mereka. Dan mengajak manusia untuk masuk ke dalam neraka dengan perbuatan dan tindakannya. Ucapan mereka berkata kepada manusia: “Kemarilah! Kemarilah!” Sedang-kan perbuatan mereka berkata: “Janganlah engkau dengarkan seruan mereka. Seandainya seruan mereka itu benar, tentu mereka adalah orang yang pertama kali memenuhi seruan itu.” (Al-Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 61).

Diriwayatkan bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala memberi wahyu kepada Nabi Daud alaihis salam: “Wahai Daud jangan engkau jadikan antara Aku dan antara dirimu seorang alim yang sudah tergoda oleh dunia, sehingga ia bisa menghalangimu dari jalan mahabbahKu. Karena sesungguhnya mereka adalah para begal yang membegal jalannya hamba-hambaKu. Sesungguhnya hukuman terkecil yang Aku kenakan untuk mereka adalah Aku cabut kelezatan bermunajat dari hati mereka.” ( Jami’ Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Bar, 1/193).Asy-Sya’bi berkata: “Akan ada sekelompok penduduk surga yang melongok, melihat sekelompok penduduk neraka. Lalu penduduk surga menyapa mereka dengan penuh keheranan, “Apa yang membuat kalian masuk neraka, padahal kami masuk surga karena jasa didikan dan ajaranmu ?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami memerintahkan kalian melakukan kebaikan namun kami sendiri tidak melaksanakannya.”

Allah telah mencela orang-orang semacam ini sejak zaman Nabi Musa alaihis salam dan mengabadikan hinaan itu di dalam kitab suci sepanjang masa.”Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri. Padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) ? Maka tidakkah kamu berpikir ?” (Al- Baqarah: 44). (Mukhtashar Jami’ Bayanul Ilmi, Ahmad bin Umar Al-Bairuti, hal. 165).

Fakta apabila kita menonton di beberapa stasiun televisi………Termasuk kelompok ulama su’ yaitu ulama yang mengajak kepada kebaikan, tetapi dengan cara-cara kefasikan, seperti berdakwah dengan musik dan gendingan. Mulutnya mengajak ke surga sementara tangan dan kakinya mengajak orang lain untuk bergoyang mengikuti syetan. Atau berdakwah dengan menggunakan metode lawak, sehingga ungkapan yang kotor dan contoh-contoh yang seronok menjadi bumbu wajib dalam setiap ceramahnya karena target keberhasilannya adalah puasnya hadirin, pemirsa dan pendengar, dengan gelak tawa dan senyuman lebar sebanyak mungkin. Tema dan isi dakwah pun dipilih dan dikemas sesuai dengan selera para panitia dan pengunjung. Mulutnya mengajak kepada iman, namun lawakan dan kebanyolannya melupakan akhirat. Intinya adalah ia mencari “ridha manusia”. Jenis ulama penghibur (pelawak dan pemusik) ini tidak mengikuti aturan dakwah dalam syariat Islam, tetapi mengikuti nafsu syetan demi mengejar ridha manusia. Mereka lupa akan ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :”Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (resiko mendapat) murka manusia, maka Allah mencukupinya dari manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan (menyebabkan) kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkan dirinya kepada manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2419)

Alhasil ulama su’ adalah perusak agama, pemadam sunnah, pelindung bid’ah, pelopor maksiat. Sesungguhnya tepat ungkapan Ibnul Mubarak:”Tidaklah merusak agama ini melainkan para raja, ulama su’ dan para rahibnya.”Hal ini karena manusia ini bergantung kepada ulama (ahli ilmu dan amal), ubbad (ahli ibadah) dan muluk (umara, aghniya’). Jika mereka baik, manusia akan baik dan jika mereka rusak, pasti dunia menjadi rusak. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/462)Umar berkata kepada Ziyad bin Hudair: “Apakah kamu mengerti apa yang merusak Islam ?” Ziyad berkata: “Tidak.” Umar berkata: “Tergelincirnya seorang alim, debatnya orang munafik -dengan ayat Al-Qur’an- dan (penetapan) hukumnya para imam yang menyesatkan.” (Riwayat Ad-Darimi)

Ulama su’ sejatinya adalah da’i-da’i neraka. Dalam hadits Hudzaifah , ketika dia bertanya kepada Rasulullah `: “Sesungguhnya kita dulu ada dalam kejahiliahan lalu Allah menganugerahkan kepada kami kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini ada keburukan ?” Beliau menjawab dalam ucapannya yang panjang sampai berkata: “Ya, para da’i di ambang pintu Jahannam. Siapa yang mendatangi ajakannya pasti akan mereka lemparkan ke dalamnya.” (HR. Al-Bukhari: 7084, dll)

Ulama su’ adalah musuh Allah, mereka sebegitu buruknya karena memutar balikkan urusan, maka benar-benar terbalik. Mestinya salah seorang mereka bisa menjadi pengajak dan penyeru kepada jalan Allah, ternyata mereka sesat dan menyesatkan, mengajak kepada jalan syetan. (Dari ucapan Ali radhiallahu anhu, Ad-Dakwatut Tammah, Abdullah Al-Hadrami, h. 42).

Ulama su’ adalah ulama fasik yang akan dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka sebelum para penyembah berhala, karena salahnya orang yang mengerti tidak sama dengan orang yang tidak mengerti. (Mukhtashar Jami’ Bayanil Ilmi, 164)Ya Allah, jadikanlah manfaat untuk kami apa yang telah engkau ajarkan kepada kami dan ajarkanlah terus kepada kami apa yang bermanfaat untuk kami.

Sumber : http://salafiyunpad.wordpress.com/2008/08/03/ulama-su%E2%80%99-petaka-dan-fitnah/





Puasa dan Konsumerisme

23 07 2011

Menjalankan kewajiban puasa Ramadhan di abad modern bagi umat Islam benar-benar penuh godaan. Bukan hanya godaan untuk tidak makan dan tidak minum di siang hari serta dari segala hal yang membatalkan puasa. Di satu sisi umat Islam juga harus menahan diri dari godaan dan serangan budaya konsumerisme yang selama bulan Ramadhan muncul atas nama agama.

Kondisi ini tentu tidak terlepas dari perkembangan kapitalisme lanjut sebagai bentuk paling mutakhir sistem ekonomi kapitalis yang menempatkan ‘konsumsi’ sebagai titik sentral kehidupan dalam tatanan sosial masyarakat kapanpun dan di manapun. Sesuatu yang bertolak belakang dengan substansi diwajibkannya puasa agar seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu (konsumtif), meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sehingga menjadi insan yang bertakwa.

Umat Islam, tiap menjelang Ramadhan selalu diposisikan sebagai “konsumen potensial” untuk meraup keuntungan bisnis. Sensibilitas keagamaan bagi para pebisnis menjadi senjata yang ampuh untuk mendongkrak tingkat konsumsi dan belanja masyarakat dibanding hari-hari biasa. Terlebih Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.

Fenomena ini tentu saja dapat dengan mudah ditemukan. Lihat di sekitar kita sekarang ini. Berbagai macam barang-barang konsumsi diproduksi dan ditawarkan spesial menyambut bulan suci Ramadhan. Mulai dari sandang, pangan, hingga kartu telepon seluler sekalipun. Termasuk hiburan seperti sinetron, musik, humor, dan ceramah pun sudah mulai tayang atas nama bulan suci Ramadhan. Kemudian muncullah istilah sinetron religi atau album religi para penyanyi maupun grup band yang selalu ditunggu para penggemarnya.

Melalui iklan di media cetak maupun elektronik berbagai komoditas yang diproduksi dengan sensibilitas keagamaan dilempar ke pasar. Tentu saja selama bulan puasa produk yang dibuat sudah dibalut dengan ‘pakaian’ bulan suci Ramadhan, Islam. Dan yang tidak kalah penting, sadar maupun tidak sadar, sesungguhnya di situlah terjadi proses penanaman semacam pembenaran atau ‘Islamisasi’ atas perilaku konsumtif umat Islam selama bulan puasa. Idi Subandy Ibrahim menyebutnya sebagai upaya kapitalisasi Islam atau penaklukan semangat keagamaan oleh pasar, dunia bisnis, atau kapitalisme itu sendiri.

Proyek penaklukan semangat keagamaan oleh pasar tersebut tentu saja sudah berlangsung sejak jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan datang. Kemudian dipusatkan pada Ramadhan selama satu bulan penuh sampai lebaran. Bahkan lebaran pun bisa menjadi semacam ‘festival konsumsi’ dimana pergantian mode dan tata busana dimanfaatkan industri untuk kepentingan bisnis semata. Sangat memprihatinkan ketika semangat atau mungkin juga kebangkitan keagamaan harus takluk pada pentas konsumsi massa.

Perkembangan kapitalisme global membuat, bahkan memaksa, momen bulan puasa tak lebih hanya menjadi komoditas yang terus menerus diproduksi demi sebuah keuntungan bisnis. Umat Islam diarahkan pada suatu kondisi dimana seolah-olah ‘hasrat’ mengkonsumsi di bulan Ramadhan selalu dilegitimasi oleh ‘kebutuhan’ rohaniah mereka. Sepertinya ibadah puasa nantinya kurang sempurna jika tidak mengkonsumsi makanan serta minuman tertentu atau segala yang disodorkan oleh media dan iklan dengan mengatasnamakan agama. Berbagai kegiatan bisnis diselenggarakan di bulan puasa sekaligus menciptakan kebutuhan yang bukan lagi esensial tapi artifisial.

Islam menempatkan ibadah puasa pada posisi yang istimewa. Puasa merupakan ibadah yang memadukan keikhlasan hubungan antara manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) dan keihklasan hubungan antara manusia dengan manusia (hablum minannas). Secara pribadi puasa merupakan media mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan, karena sangat pribadi Allah SWT sendirilah yang akan membalasnya. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Semua amal perbuatan Bani Adam menyangkut dirinya pribadi kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan karena itu Akulah yang langsung membalasnya.”

Sementara dari sisi sosial puasa mengajarkan untuk lebih peduli kepada sesama. Memperbanyak amal sholeh dan bukan menumpuk nafsu konsumtif sendiri. Puasa hendak mengajarkan bagaimana mengendalikan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, Islam pun menegaskan kepedulian sosial ini dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah di akhir Ramadhan.

Melalui dua dimensi itulah puasa bertujuan membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Takwa adalah derajat paling tinggi di sisi Allah SWT dan mustahil dicapai melalui pemenuhan nafsu pribadi yang bersifat material dan simbolik. Sebab ketakwaan seseorang tidak dinilai dari simbol-simbol artifisial yang menempel di tubuh.

Puasa ingin mengajak umat Islam untuk membebaskan diri dari pemenuhan aneka kebutuhan simbolik. Termasuk membebaskan diri dari belenggu konsumerisme. Ramadhan sebentar lagi. Semoga kita bisa menyambutnya dengan penuh semangat dan menjadikannya sebagai momentum kebangkitan keagamaan yang tidak berhenti pada level simbolik semata. Amin.

Marhaban ya Ramadhan…

sebuah tulisan dari saudara Fahmi FR





yang sering dilupakan itu ialah TUHAN

5 03 2011

Manusia itu baik karena Agamanya………

ya..ungkapan itu sepertinya cocok utk mencerminkan pribadi2 umat muslim di negeri ini.

Umat yg secara kuantitas lebih byk dari pada umat2 yg lain yg berada di negeri ini. Namun secara kualitas tidaklah sejalan dgn kuantitas, yg dimana umat yg secara kuantitas lbh banyak tapi tak bisa menunjukan kualitasnya, bahkan umat yg satu ini lebih cenderung berada dlm kehinaan dan kegelapan, jauh sekali dari cahaya (petunjuk).

kenapa demikian ????

timbulah suatu pertanyaan yg hrs di jawab oleh diri kita semua ???

sekarang coba jawab oleh kitasemua…!!!

ketika kita bangun dari tidur, apa yg ada dipikiran kita ???

ketika kita melangkah apa yg ingin kita tuju dlm menempatkan langkah ini ???

ketika kita merasa takut siapakah yg kita takuti itu ????

ketika kita merasa cinta sehingga melebihi cinta yg lain, siapakah yg kita cintai itu ???

sahabat ku ….!!!

adakah TUHAN dalam diri kita ???

adakah DIA dlm pikiran kita ???

adakah DIA menjadi tujuan kita ???

adakah DIA yg harus kita takuti ???

adakah DIA yg wajib kita cintai melebihi apapun ???

jika “Ada” apa buktinya ????

kita merasa bahwa DIA ada dlm hidup kita, namun petunjuk dari DIA jarang sekali kita gunakan dlm hidup kita.

kita merasa bahwa DIA ada dlm hati kita, namun “aturan2” dari-Nya jarang sekali kita taati, “perintah2” dari-Nya jarang sekali kita jalani.

ya….karena yg sering kita lupakan adalah TUHAN……

yang sering kita lecehkan itu ialah TUHAN……

yang sering kita permainkan ialah TUHAN…….

sekarang jika seperti ini, dmn letak diri kita sebagai manusia yg beragama ???

dmn letak kualitas kita sebagai umat yg mayoritas ???

sadarlah……

sadarlah……

sadarlah……

kita ini manusia yg mempunyai fungsi dan peran sebagai manusia di bumi-Nya ini……..

kita ini produk ciptaan-Nya…………

lantas knp kita tak mau mengikuti aturan-Nya….. ???

tak mau menjlnkan sgala perintah-Nya……..???

kita ini punya Akal sebagai potensi dasar kita utk menjalankan fungsi dan peran kita sbg manusia…….

kita ini punya “petunjuk” dari-Nya dlm mengelola potensi2 dasar kita……..

jika kita punya Akal namun tak menjalankn fungsi dan peran kita, lalu apa bedanya kita ini dgn hewan ternak ???

naudzubillah……





Menyikapi bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini di Negeri kita.

12 11 2010

Dewasa ini kita sungguh prihatin menyaksikan bagaimana musibah beruntun terjadi di Indonesia, negeri berpenduduk muslim terpadat di dunia. Belum selesai mengurus musibah dua kecelakaan kereta api sekaligus di awal Oktober, tiba-tiba muncul banjir bandang di Wasior, Irian. Kemudian gempa berkekuatan 7,2 skala richter diikuti Tsunami hebat di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Lalu tiba-tiba kita dikejutkan dengan erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah. Belum lagi ibukota Jakarta dilanda banjir massif yang mengakibatkan kemacetan dahsyat di setiap sudut kota, bahkan sampai ke Tangerang dan Bekasi. Siapa sangka banjir di Jakarta bisa terjadi di bulan Oktober, padahal jadwal tahunan rutinnya biasanya di bulan Januari atau Februari..?

Kita sering heran mengapa kok di negeri berpenduduk muslim paling besar di dunia justeru Allah timpakan bencana secara beruntun dalam rentang waktu yang relatif berdekatan. Apalagi kita sudah diperingatkan bahwa masih ada lagi duapuluh gunung api yang perlu diantisipasi peningkatan aktifitasnya.

Dalam suatu kesempatan yaitu pada Shalat Jum’at, saya menyimak sang khotib dalam khutbahnya mengatakan bahwa bencana yg terjadi akhir2 ini di negeri kita adalah suatu ujian dari Allah.

benarkah bencana yg terjadi akhir-akhir ini adalah ujian dari Allah???

Jika kita merujuk pada konsep Al-Qur’an, akan kita temui bahwa yg namanya ujian dari Allah itu tidak berbentuk bencana, seperti halnya yg terjadi pada kaum hud dan kaum Aad itu semua adalah Azab dari Allah karena mereka mendustai ayat-ayat Allah.

skrng kita ambili contoh kisah kaumnya nabi Nuh, mungkin kita sudah tau tentang apa yg terjadi oleh kaumnya nabi Nuh, mereka di berikan Air bah yg sangat dahsyat sehingga mereka binasa karena Air bah tersebut. Nah skrng apakah yg terjadi kpd kaum nabi Nuh sehingga mereka mendapatkan bencana Air bah tersebut???

Jawabannya pasti karena mereka mendustai ayat-ayat Allah yang disampaikan oleh nabi Nuh, yg akibatnya mereka diberikan Azab oleh Allah berupa Air bah yg sangat dahsyat.

perhatikanlah Firman Allah yg menceritakan tentang kaum nabi Nuh.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)” (Al A’raf : 59)

“Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (Al A’raf : 64)

Teman-teman ku semua…!!!sekarang saya ingin bertanya, apakah kisah kaum nabi Nuh itu tidak sama dengan realita keadaan kita pada zaman sekarang ini, yg slalu ditimpah bencana, bencana dan bencana. Masihkah kita berfikir bahwa ini adalah ujian ???

Allah berfirman:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf : 96)

Ayo….kita kembali kepada “JALAN”NYA, ……….sebelum kita BINASA……